Aura Dzikir Gaya Pak Kiai Fuad

Rabu, 16 September 2009 | 12:49 WIB

TEMPO Interaktif, Yogyakarta – “Yang kudamba, semoga segera bergembira”. Sebaris kalimat doa itu tergores di belakang kanvas lukisan bergaya abstrak berjudul “Pesta Kembang Api”. “Pesta Kembang Api” adalah satu dari 16 lukisan karya KH Muhammad Fuad Riyadi, 40 tahun, pengasuh pondok pesantren Roudlotul Fatihah, Plered, Bantul, yang kini sedang dipameran di Bentara Budaya Yogyakarta. Pameran bertajuk “Aura Dzikir” ini berlangsung 11-18 September 2009.

KH Muhammad Fuad Riyadi, alumnus Sastra Indonesia IKIP Negeri Yogyakarta tahun 1995, ini memang baru menekuni dunia seni lukis sejak awal 2009, sebagai bagian dari media dakwahnya. Itu sebabnya ia selalu menyertakan sebaris kalimat doa pada setiap lukisan hasil karyanya.

Gaya melukis sang Kiai ini cukup unik. Ia memelototkan cat merk Rembrant langsung dari tube ke jari-jari tangannya. Ia lalu menggoreskan cat di atas kain kanvas linen Inggris dengan jari dan telapak tangannya, diiringi suara dzikir dari laptop di sampingnya.

“Selama melukis, saya memamg harus on meditation. Tak boleh ada yang mengganggu selama saya melukis. Bahkan isteri dan anak-anak saya tak boleh mendekat selama saya melukis,” katanya.

Dzikir, jelasnya, adalah frekuensi positif yang sifatnya universal. Karenanya, lukisan yang sudah selesai dikerjakan akan digantung di pendopo pesantren selama 40 hari. Maksudnya agar lukisan itu menyerap energi positif dari dzikir dan pengajian yang setiap hari dilakukan di pendopo tersebut. Itu sebabnya, semua lukisan karya KH Muhammad Fuad Riyadi dipercaya memiliki aura penyembuhan.

“Pesta Kembang Api” yang selesai dikerjakan 20 Maret 2009 itu, misalnya, mampu memberikan efek penyembuhan bagi orang-orang yang sedang stres. Melalui lukisan yang mencitrakan kilatan-kilatan cahaya kembang api dengan warna dominan merah, kuning dan biru itu diharapkan bisa menjauhkan dari duka dan selalu mendatangkan kegembiraan.

Teknik melukis dengan jari dan telapak tangan itu, menurut KH Muhammad Fuad Riyadi, diadopsi dari teknik lukisan gua yang dilakukan manusia purba. Ia sengaja memilih gaya abstrak, karena menurutnya, lebih universal. Ia tak memilih jalur lukisan kaligrafi karena hanya bisa dinikmati orang-orang tertentu saja.

Namun, menurut kurator AA Nurjaman, lukisan KH Muhammad Fuad Riyadi tidak sepenuhnya abstrak. Beberapa diantaranya ada yang menampilkan obyek gambaran. Salah satunya adalah lukisan berjudul “Ziarah Pohon Siwalan” yang memang menampilkan citraan pohon siwalan yang tengah berbuah.

Nurjaman juga menangkap irama dzikir pada lukisan hasil karya KH Muhammad Fuad Riyadi. “Dzikir baginya menimbulkan getaran jiwa yang berinteraksi dengan Tuhan. Getaran itu harus ia ungkapkan secara langsung. Maka dalam proses melukis, ia tidak banyak mempergunakan alat,” tulis Nurjaman dalam pengantar kuratorialnya.

HERU CN

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.