Pemeran Lukisan Aura Dzikir Lewat Goresan Absrak Kyai Fuad

Kompas/Lukas Adi Prasetya
/

Minggu, 13 September 2009 | 21:32 WIB

KOMPAS.com – Lukisan mestinya bukan semata goresan yang indah secara visual ditangkap mata. Lukisan akan kaya makna dan memancarkan aura positif bagi mata yang memandang, apabila ada perenungan spiritual dalam proses pembuatannya. Dzikir adalah salah satu cara perenungan spiritual yang dilakukan KH Muhammad Fuad Riyadi (38).

Fuad yang adalah Pengasuh Pondok Pesantren Rudlotul Fatihah, Pleret Bantul, ini menggelar lukisan-lukisan abstraknya dalam Pameran Aura Dzikir, di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY). Pameran tersebut berlangsung Sabtu (12/9) hingga Kamis (17/9).

Fuad sudah melukis sejak remaja. Namun dalam jagad pameran, bisa dibilang ini pameran awalnya. Demikian juga cara dia mencari ilham dan mood untuk mulai menggoreskan kuas, yakni dengan berdzikir. Cara yang sungguh unik, namun Fuad punya alasan kuat.

“Lukisan pasti mempunyai aura, dan aura itu memengaruhi mata. Jika proses pembuatannya dilingkupi aura negatif, aura yang terpancar juga akan negatif. Dzikir memberi aura positif, kedamaian, kegembiraan, keindahan, dan mencerahkan,” ujarnya.

Aura lukisan memang sulit dicerna orang awam. Namun Fuad menyakini aura itu ada. “Seandainya Dalai Lama (tokoh spiritual) muncul di sini (BBY) dan melihat karya saya, maka dia pasti merasakan aura lukisan saya,” katanya.

“Banyak aura lukisan yang jahat, karena ada jin didalamnya,” tambah dia.

Sri Harjanto Sahid, pengamat seni, mengemukakan, proses kreatif dengan berdzikir, bisa menghasilkan karya yang auranya kuat dan berdampak dasyat. Dampak itu dirasakan oleh penikmat lukisan. Si pelukis yang berdzikirnya sudah kencang sekalipun, kadar merasakan auranya bisa malah datar-datar saja. Dengan kata lain, lukisan yang bagus, lebih cerdas dari pelukisnya.

Kyai Fuad melukis dengan berproses dzikir, belum ada setahun ini. Lukisannya kaya garis, kaya warna, kaya nuansa, dan ada auranya. Namun karena kyai masih dalam tahap eksperimen melukis, lukisannya masih banyak mengusung warna-warna mentah, kurang berani mencampuradukkan aneka warna. “Tapi saya yakin dia sedang menuju ke tahap itu, dan dia akan sampai,” ujar Sri yang juga kolektor, pelukis, dan sastrawan ini.

Fuad mengatakan, ia baru menggoreskan kuas ketika mendapat ilham dan ada yang menggerakkan, saat berzikir atau habis berdzikir. Jika ilham hilang, kuas mesti diletakkan, dan kegiatan melukis dilanjutkan keesokan hari , atau sampai hari ketika ilham itu datang. Karena itulah, ada lukisan yang rampung dikerjakan dalam dua hari, tapi ada juga yang sampai enam bulan.

“Setiap lukisan saya, minimal 40 hari harus saya pajang di tempat saya berdzikir. Dalam benak saya, itu agar lukisan saya merekam lantunan dzikir saya, dan menyerap aura positif dari dzikir saya. Proses ini, bagi saya, penting,” katanya.

Proses membawa lukisan Fuad ke ruang pameran, atau dari ruang pameran ke rumah pembeli, pun tergolong ribet. Lukisan mesti dipaking, ditutup rapat dan didoakan sehingga tak mendapat serangan frekuensi jahat di tengah perjalanan. Hal tersebut, menurut kyai yang dikenal karena kevokalannya menentang pengeras suara di masjid ini, agar aura lukisan, dapat terjaga total.

Sebelum pameran dibuka, tiga lukisan Kyai Fuad sudah terjual. Takut Bakar Rumput yang dibanderol Rp 75 juta, dibeli seorang pengusaha. Naga Asa,yang dilabeli harga Rp 350 juta, dibeli seorang pejabat kepolisian di DIY. Lukisan ketiga, yakni Karena Kita Hanya Manusia Biasa, yang seharga Rp 250 juta, dibeli seorang caleg terpilih untuk DPR RI. (Lukas Adi Prasetya)

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.